H. Pembuatan Peta



Data hasil pengamatan dan pengukuran unsur-unsur struktur geologi ditampilkan dalam peta kerangka geologi (untuk pemetaan geologi pendahuluan dan lanjut) atau peta lokasi pengukuran unsur struktur (untuk skrispsi dengan kajian khusus bidang struktur).

Di dalam peta kerangka geologi yang lazim ditampilkan adalah hasil pengukuran jurus dan kemiringan lapisan batuan, indikasi gejala pensesaran, simbol litologi dsb. Oleh karenanya peta ini sangat penting karena berisi informasi segala gejala geologi hasil penelitian lapangan.

Ploting data unsur struktur seluruhnya harus ditampilkan dalam peta kerangka. Dalam hal ini apabila di dalam suatu lintasan pengamatan dijumpai singkapan yang rapat dan menerus maka sedapat mungkin data tersebut diplot ke dalam peta kerangka. Pada saat ini ada kendala untuk memplot data pengukuran unsur struktur sebanyak mungkin ke dalam peta kerangka, karena di dalam peta ini tidak hanya data struktur yang diplot namun simbol litologinyapun harus dicantumkan. Oleh karenanya perlu dibuat satu peta lagi yang khusus menggambarkan hasil pengukuran unsur struktur, yang dinamakan sebagai Peta Lokasi Unsur Struktur.

Peta lokasi unsur struktur ini menunjukan lokasi hasil pengukuran jurus dan kemiringan lapisan batuan, data cermin sesar, gejala pensesaran berupa breksi sesar, milonit, mata air panas dsb.

Peta lokasi struktur digunakan untuk merekontruksi pola jurus, dengan cara ini akan diketahui posisi dan jalur sumbu lipatan (jika ada) maupun jalur sesarnya. Lebih jauh lagi apabila dikompilasi dengan data stratigrafi dan paleontologi akan diketahui penyebaran batuannnya secara lateral.

Pada saat ini hasil rekontruksi pola jurus ditampilkan dalam peta tersendiri yang dinamakan sebagai Peta Pola Jurus Perlapisan Batuan. Selama ini rekontruksi pola jurus yang dilakukan oleh mahasiswa tidak memperhatikan elevasi (topografi) sebagai dasar dalam koreksi topografi (ingat hukum “V). Oleh karenanya hasil rekontruksi pola jurus hanya bersifat semu (karena ploting data jurus dan kemiringan lapisan batuan tidak pada tempat sebenarnya). Prosedur sebenarnya dalam merekontruksi pola jurus adalah dengan menyamakan kedudukan data pengukuran pada elevasi yang sama (Hal ini berlaku pula dalam pembuatan penampang geologi). Untuk kepentingan ini setiap data harus diproyeksikan pada level yang sudah ditentukan, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama (ingat waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tugas ini maksimal 3 semester). Oleh karenanya laboratorium geodinamik yang berkepentingan dalam masalah ini memutuskan untuk mengganti Peta Pola Jurus Perlapisan Batuan menjadi Peta Struktur.

Peta struktur ini dibuat berdasarkan Peta Kerangka, Penampang struktur, stratigrafi dan umur batuan. Semua data pengukuran umsur struktur seluruhnya ditampilkan di dalam Peta Struktur (lihat contoh peta struktur pada lampiran).

Peta Geologi merupakan tujuan utama dalam pemetaan geologi. Peta geologi ini merupakan hasil analisis data dari peta kerangka, peta struktur, penampang geologi, rekontruksi pola jurus, stratigrafi dan umur batuan. (Semua data pengukuran Peta Struktur ditampilkan dalam Peta geologi).

Catatan :
Ukuran huruf di dalam peta beserta keterangan peta harus proposional, jelas dan rapih. Tidak boleh menggunakan tangan bebas.
[Read More...]


G.3. Pembahasan Struktur Geologi Di Dalam Laporan Kajian Khusus (Skripsi) Bidang Geologi Struktur.



Skripsi merupakan tugas akhir yang wajib dilaksanakan oleh setiap mahasiswa, dengan maksud untuk menguji kemampuan mahasiswa pada bidang yang lebih khusus. Oleh karenanya materi utama yang dibahas di dalam laporan skripsi harus lebih mendalam dibandingkan dengan materi lainnya.

Berkaitan dengan masalah ini, apabila mahasiswa tertarik untuk mempelajari geologi struktur sebagai bahan skripsinya, maka pembahasan materi geologi struktur harus lebih detail dan mendalam dibandingkan dengan pembahasan struktur geologi di dalam laporan pemetaan geologi.

Berkaitan dengan masalah tersebut di atas, maka laporan skripsi dengan kajian khusus bidang geologi struktur geologi, di dalamnya harus mengerjakan :

1. Membuat peta kelurusan berdasarkan citra landsat, foto udara dan peta topografi. Hal ini perlu dilakukan sebagai dasar observasi di lapangan dan sebagai bahan analisis selanjutnya. Data kelurusan tersebut perlu ditampilkan juga dalam bentuk diagram mawar, dengan maksud untuk mengetahui arah umum jalur sesarnya.

2. Membuat peta lokasi ditemukannya gejala struktur, misalnya lokasi ditemukannya cermin sesar, lipatan seret, breksi sesar, milonit, bidang lapisan serta unsur pendukungnya berupa lokasi gawir sesar, mata air dsb.

3. Membuat tabel hasil pengukuran cermin sesar, bidang lapisan, bidang kekar dsb, di setiap lokasi pengukuran.

4. Membuat penampang struktur sesar di beberapa lintasan, dengan maksud untuk mengetahui gambaran struktur geologi secara lebih jelas lagi pada masing-masing lintasan yang akhirnya dapat memudahkan dalam menganalisis tektonik daerah penelitian secara menyeluruh. Misalnya apabila di dalam penampang struktur sesar tersebut di dominasi oleh sesar naik, maka pola struktur sesar tersebut termasuk ke dalam kelompok thrust system. Selanjutnya diidentifikasi apakah sistem sesar naik tersebut berjenis Imbricate atau Duplexes. Selanjutnya dengan penampang struktur sesar ini dapat ditentukan transport tektoniknya. Akhirnya dapat menjelaskan kedudukan masing-masing sesar naiknya, apakah sebagai Fore thrust atau back trhust, lebih detail lagi apakah sesar naik tersebut berjenis backlimb thrust atau forelimb thrust. Dengan cara ini akan lebih mudah menganalisis tektonik daerah penelitian secara lebih terpadu.

5. Menganalisis pembentukan struktur geologi berdasarkan konsep/teori yang sudah diakui (Dipublikasikan baik dari teks book maupun makalah), serta mengkaitkannya dengan lingkungan tektoniknya (Tektonik lempeng).
[Read More...]


G.2. Pembahasan Sub Bab Geologi Struktur Dalam Pemetaan Lanjut



Pembahasan sub-bab geologi struktur di dalam laporan pemetaan geologi lanjut harus lebih mendalam, karena mahasiswa yang bersangkutan telah mendapatkan mata kuliah Geodinamik dan Struktur Indonesia, disamping ilmu lainnya yang menunjang (Petrografi dsb). Di dalam mata kuliah Geodinamik dan Struktur Indonesia, materi yang diajarkan, antara lain :

1. Mempelajari teori tektonik lempeng (Sejarah perkembangan teori tektonik lempeng, genetik serta lingkungan tektoniknya).
2. Mempelajari mekanisme dan dinamika pergeseran antar lempeng (Bertumbukan, berpapasan atau bergerak saling menjauh). Selanjutnya apa produk struktur yang dihasilkan dari masing-masing kejadian tersebut.
3. Mempelajari pola struktur yang dihasilkan pada masing-masing lingkungan tektonik. Misalnya pola struktur lipatan anjakan akan berkembang di lingkungan tektonik Back arc dan Fore Arc, selanjutnya membahas persamaan dan perbedaan genetik kedua pola tersebut.
4. Mempelajari pembentukan sesar naik (Thrust) regional baik geometri (Imbricate atau duplex) maupun genetiknya (Diapirik, Gravity sliding atau underthusting).
5. Mempelajari pembentukan sesar mendatar regional (Wrench fault) baik geometri, genetik. Disamping itu dipelajari secara khusus mengenai Riedel shear, Imbricate/duplexe , Flower structure dan sebagainya.
6. Mempelajari pembentukan sesar normal regional baik geometri dan genetiknya. Secara khusus dipelajari mengenai Sesar Domino, Listric fault, dsb.
7. Mempelajari pengaruh tumbukan lempeng Asia, Hindia Australia dan Pasifik sebagai pembentuk struktur regional di Indonesia.

Dengan asumsi bahwa setiap mahasiswa sudah mendapatkan kedua mata kuliah tersebut di atas maka perbedaan pembahasan sub bab geologi struktur di dalam laporan pemetaan geologi pendahuluan dan pemetaan lanjut adalah pada ketajaman analisisnya.

Contoh pembahasan tersebut, misalnya :
… Struktur sesar di daerah penelitian secara regional diakibatkan oleh terjadinya tumbukan Lempeng Asia dengan Lempeng Indo-Ausatralia yang berlangsung sejak Miosen hingga sekarang. Bukti-bukti yang menunjukan hal tersebut antara lain dengan berkembangnya struktur lipatan yang intensif, serta adanya dominasi sesar naik dan sesar mendatar. Berdasarkan pada jenis struktur geologinya, maka disimpulkan bahwa tektonik yang mempengaruhi pembentukannya bersifat kompresi. Dst

Contoh lainnya :
… walaupun di daerah penelitian ini berkembang beberapa sesar normal, namun secara regional, tektonik yang mempengaruhi pembentukannya struktur sesar di daerah penelitian ini bersifat kompresi. Adanya tektonik kompresi ini ditunjukan dengan berkembangnya beberapa sesar mendatar yang ukurannya relatif panjang (sesar regional), sedemikian rupa pada daerah di antara kedua sesar mendatar tersebut berkembang sesar normal, yang lazim dikenal sebagai Pull apart (Park, 1982). Dst.
[Read More...]


G.1. Pembahasan Sub Bab Geologi Struktur Dalam Pemetaan Pendahuluan



Pemetaan geologi pendahuluan dilakukan pada semester IV. Pada saat itu mahasiswa yang bersangkutan telah mendapatkan mata geologi struktur pada semester III. Sesuai dengan SAP Mata kuliah Geologi Struktur, maka segala materi yang telah diberikan seyogyanya diterapkan dalam pemetaan geologi struktur.

Materi yang diberikan dalam perkuliahan/praktikum geologi struktur yang menunjang untuk kegiatan pemetaan geologi , antara lain :

A. Teori :
1. Struktur lipatan, yang didalamnya membahas mengenai geometri lipatan (Hinge line, hinge point, axial plane, inflextion point, limb, trough, crest dsb), klasifikasi lipatan (Rickard, hobs, timothy), dan genetik pembentukannya yang dibahas secara umum.
2. Struktur Sesar, yang didalamnya membahas mengenai geometri sesar, sistem tegasan, klasifikasi sesar, gejala sesar di lapangan.
3. Struktur Kekar, yang didalamnya membahas mengenai geometri, klasifikasi kekar dan genetik pembentukannya yang dibahas secara umum.

B. Praktikum
1. Latihan mengeplot dan menggambarkan unsur-unsur struktur secara manual dan komputasi dengan mempergunakan program Stereograph.
2. Pembuatan penampang struktur dengan menggunakan metoda Bush dan Kink
3. Menghitung ketebalan lapisan
4. Membuat batas satuan/formasi pada peta geologi dengan menggunakan Hukum “V”.
5. Membuat diagram roset secara manual dan komputasi dengan mempergunakan program Dip.
6. Proyeksi bidang/garis ke dalam stereografi berupa diagram titik, kontur dan busur (Wulf net, Smid net, diagram polar dsb) secara manual dan komputasi dengan mempergunakam program Dip
7. Menentukan sistem tegasan secara manual dan komputasi dengan mempergunakan program Stress.
8. Menganalisi kelurusan topografi berdasarkan penafsiran citra landsat, foto udara dan peta topografi. Dengan cara ini mahasiswa dapat mengetahui gambaran struktur geologi secara umum.
9. Latihan membuat peta pola jurus


Dengan materi perkuliahan tersebut di atas, maka pembahasan mengenai sub bab geologi struktur di dalam laporan pemetaan geologi pendahuluan adalah :

1. Membahas hasil penafsiran citra landsat, foto udara atau peta topografi daerah penelitian. Di dalamnya mencakup bahasan mengenai arah umum jalur sesar, intensitas sesar dsb. (Hasil penafsiran struktur tersebut ditampilkan dalam peta struktur dan diagram roset).

2. Membahas mengenai macam/jenis struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian berdasarkan point 1, data lapangan dan hasil rekontruksi pola jurus. Pembahasan mencakup geometri, klasifikasi dan jalur struktur geologi baik lipatan maupun sesar. Pembahasan struktur lipatan dilengkapi dengan menampilkan diagram kontur, sebagai dasar menentukan jenis lipatan (klasifikasi dari Hobs, rickard, timothy dsb). Pembahasan struktur sesar dilengkapi dengan gambar stereogram sistem tegasan.

3. Analisis struktur geologi mencakup genetik dan waktu kejadiannya. Dalam hal ini perlu dipahami teori/konsep struktur geologi serta menguasai tentang geologi regional yang berkaitan dengan daerah penelitian.

Beberapa contoh laporan sub bab geologi struktur, adalah sebagai berikut :

a. Berdasarkan hasil interpretasi foto udara yang ditampilkan dalam peta penafsiran struktur (Gambar 4.1) diketahui ada beberapa arah umum kelurusan yang diperkirakan sebagai akibat proses pensesaran, yaitu kelurusan berarah barat-timur, timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara (Gambar 4.2). Kelurusan berarah barat-timur umumnya sejajar dengan arah punggungan perbukitan sedangkan kelurusan berarah baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya umumnya memotong jalur punggungan perbukitan. Kelurusan berarah baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya diperkirakan merupakan pasangan sesar yang terjadi pada periode tektonik yang sama. ….dst, selanjutnya : … dengan berkembangnya pola kelurusan demikian dapat ditafsirkan bahwa daerah penelitian telah mengalami tektonik yang cukup kuat, hal ini ditunjukan dengan intensitas kehadiran struktur sesar yang cukup rapat. Dst.

b. Struktur geologi daerah penelitian terdiri atas struktur lipatan dan struktur sesar (bahas secara umum kondisi struktur geologi daerah penelitian). Dst …, selanjutnya (bahas struktur lipatannya) : … berdasarkan hasil rekontruksi pola jurus diketahui ada 3 sumbu lipatan, yaitu Antiklin Dago, Sinklin Jatinangor dan Antiklin Cibiru (Tabel 4.1). …Selanjutnya : .. Antiklin Dago relatif berarah barat-timur, membentang mulai dari sekitar Kampung Cileunyi hingga Gunung Geulis. Di beberapa tempat jalur lipatan ini dipotong oleh Sesar Cicaheum dan Sesar Cipadung. ……Selanjutnya : … berdasarkan geometri lipatannya, Antiklin Dago termasuk ke dalam jenis upright inclined fold (Rickard, 1975). ………dst. Selanjutnya (bahas struktur sesar) : Sesar Cicaheum terletak di bagian barat daerah penelitian berarah baratlaut-tenggara, membentang mulai sekitar Kampung Padasuka dibagian selatan hingga Kampung Kiarapayung di bagian utara.

Sesar ini diketahui berdasarkan hasil interpretasi foto udara berupa adanya kelurusan Sungai Buahbatu dan data lapangan berupa :
- Ditemukan sejumlah cermin sesar di lokasi BB-1 (BB-1 = lokasi pengukuran berada pada lintasan pengamatan Buahbatu pada nomor lokasi 1). Apabila data pengukurannya banyak lebih baik ditampilkan ke dalam bentuk tabel dan apabila datanya sedikit dapat langsung ditulis hasil pengukurannya secara lengkap.
- Ditemukannya beberapa lokasi singkapan breksi sesar di BB-1, BB-5 dan CSR-7.
- Ditemukannnya sejumlah drag fault di lokasi Csr-2 dan Ckd-4.
- Ditemukannya sejumlah pengukuran jurus dan kemiringan lapisan yang tidak beraturan, dst. (Catatan : Identifikasi adanya struktur sesar dapat pula disimpulkan berdasarkan hasil rekontruksi pola jurus, misalnya ada sumbu lipatan yang bergeser atau dapat pula berdasarkan posisi stratigrafinya).

Selanjutnya : Berdasarkan geometri sesarnya , disimpulkan bahwa Sesar Cicaheum termasuk ke dalam jenis left handed reverse slip fault (Rickard, 1975).

c. Selanjutnya harus dibahas mengenai analisis struktur geologi daerah penelitian ke dalam sub-bab tersendiri. Di dalam sub bab ini yang dibahas mengenai : kapan terjadinya proses pembentukan struktur lipatan dan sesar dikaitkan dengan umur batuan yang disesarkannya (stratigrafi). Selanjutnya harus dibahas pula mengenai mekanisme pembentukannya, apakah akibat tektonik kompresi atau ekstensional dan bagaimana kaitannya dengan struktur geologi regional daerah penelitian.
[Read More...]


G. Pembuatan Laporan



Hasil analisis geologi daerah penelitian selanjutnya ditampilkan dalam bentuk buku laporan yang di dalamnya dilengkapi dengan peta struktur, penampang struktur, sketsa singkapan, gambar model genetik pembentukan struktur, lampiran hasil pengukuran data dsb.

Hingga saat ini kriteria batasan pembuatan laporan sub-bab struktur geologi di dalam pemetaan pendahuluan, pemetaan lanjut dan skripsi, masih belum jelas. Contoh kasus ini, terutama sering dijumpai di dalam laporan pemetaan geologi pendahuluan dan geologi lanjut, dimana pembahasan sub bab geologi struktur tidak ada bedanya.

Sebenarnya pemetaan geologi pendahuluan dimaksudkan untuk melatih mahasiswa dalam melakukan pemetaan geologi, yang nantinya sebagai bekal dalam melakukan pemetaan geologi lanjut. Oleh karenanya sistimatika pembahasan di dalam laporan pemetaan geologi pendahuluan dan pemetaan geologi lanjut relatif tidak berbeda, yang membedakan diantara keduanya adalah dalam hal ketajaman analisisnya. Hal ini sangat relevan mengingat dalam pemetaan geologi lanjut, setiap mahasiswa sudah mendapatkan mata kuliah lanjut (mata kuliah wajib), seperti petrografi, geodinamik dan struktur Indonesia.
[Read More...]


F. Analisis Data



Analisis data dilakukan untuk memecahkan persoalan geologi, khususnya mengenai jenis struktur geologi (Geometri) serta tektonik yang melatarbelakangi pembentukannya (Kinematika dan dinamika). Sasaran penelitian ini pada akhirnya dapat menjelaskan kondisi struktur geologi baik lipatan dan sesar, yang didalamnya mencakup penjelasan mengenai : jenis, bentuk, pola dan genetik pembentukan struktur geologinya.

Analisis struktur geologi dilakukan setelah peta dan penampang struktur selesai dikerjakan. Dalam tahap analisis ini perlu diperhatikan pula aspek sedimentologi, stratigrafi, paleontologi, umur batuan dan morfologinya.

Kualitas analisis data tergantung pada beberapa faktor, antara lain keakuratan dalam mengukur unsur-unsur struktur geologi, ketepatan dalam memploting data geologi ke dalam peta topografi, tingkat pemahaman mengenai konsep/teori/model pembentukan struktur geologi, pengetahuan geologi lainnya (stratigrafi, sedimentologi, petrografi dsb) serta pengetahuan mengenai kondisi geologi yang akan diteliti baik secara lokal maupun regional.
[Read More...]


E. Pengolahan Data



Data yang didapatkan dari hasil penelitian lapangan, selanjutnya diolah baik secara manual maupun secara komputasi. Pengolahan data berasal dari hasil pengamatan dan pengukuran bidang lapisan batuan, bidang sesar, liniasi dsb. Penjelasan rinci dari point E ini adalah sebagai berikut :

1. Pengolahan Data Jurus dan Kemiringan Lapisan Batuan

a). Metoda Pola Jurus Perlapisan Batuan
Data jurus dan kemiringan lapisan batuan, ditampilkan dalam bentuk simbol pada peta topografi. Selanjutnya berdasarkan jurus perlapisan, ditarik garis kelurusannya (setelah dilakukan koreksi topografi). Dengan cara ini akan diketahui beberapa hal, yaitu :

- Bagaimana pola lapisan batuannya (pola lipatan), apakah ada perbedaan antara 1 (satu) pola lipatan dengan pola lipatan lainnya.

- Ada/tidaknya sumbu lipatan, jika ada apakah lipatan tersebut antiklin atau sinklin (tandai dengan simbol sumbu lipatan), bagaimana penyebaran dan arah sumbu lipatannya, apakah lipatannya normal atau rebah (sudah ada pembalikan).

- Jika dikompilasikan dengan data jenis batuan (dominansi batuan) dan umur batuannya, akan diketahui penyebaran satuan batuannya.

b). Metoda Diagram Kontur

Data jurus dan kemiringan lapisan batuan ditampilkan dalam bentuk diagram kontur.

- Diagram kontur, yaitu pengolahan data jurus dan kemiringan lapisan batuan dengan memproyeksikan data tersebut secara stereografi. Proyeksi ini digunakan untuk memecahkan masalah hubungan sudut baik garis dan bidang di dalam ruang. Dengan cara ini selanjutnya akan diketahui gambaran dari suatu geometri lipatan dan selanjutnya digunakan untuk mengetahui jenis lipatannya (klasifikasi lipatan). Pengolahan data dilakukan secara komputasi dengan mempergunakan program “dip”.

2. Data Kekar
- Data kekar digunakan untuk mengetahui sistem tegasan yang mempengaruhi pembentukannya. Caranya dengan mengolah data kekar (jurus dan kemiringan) ke dalam bentuk diagram roset dan kontur. Kepentingan pengolahan data dengan tampilan Diagram Roset adalah untuk mendapatkan arah dominan bidang kekarnya. Hasil pengolahan data ini ditampilkan dalam bentuk diagram kipas. Pengolahan data dilakukan secara komputasi dengan mempergunakan program “Dip”.

Diagram kontur dimaksudkan untuk mengetahui posisi maksima dari seluruh data kekar yang selanjutnya digunakan untuk mengetahui posisi tegasan utama (1), tegasan menengah (2) dan tegasan minimum (3). Dengan diketahuinya kedudukan masing-masing sistem tegasan tersebut akhirnya dapat menunjukan sifat tegasan pembentuk sesarnya. Harus diperhatikan bahwa pengukuran data kekar ini dilakukan pada daerah-daerah yang berada di dalam zona pensesaran.

3. Data Cermin Sesar (slicken side)

Data cermin sesar diperlukan untuk mengetahui sistem tegasan pembentuk sesar. Pengolahan data ini ditampilkan dalam bentuk diagram roset dan stereogram sistem tegasan. Diagram roset diperlukan untuk mengetahui arah dominan cermin sesarnya, sedangkan stereogram untuk mengetahui sistem tegasannya. Sistem tegasan pembentuk sesar diketahui dari gambaran stereogram, yang didalamnya menggambarkan posisi tegasan utama (1), tegasan menengah (2) dan tegasan minimum (3); arah tegasan, sifat tegasan dan gambaran streogram masing-masing cermin sesarnya. Pengolahan data dilakukan secara komputasi dengan mempergunakan program dip dan stress.
[Read More...]


D. Gejala Umum Akibat Proses Pensesaran



Ada beberapa gejala struktur yang dapat diamati baik melalui penafsiran foto udara, citra indraja dan foto udara (sudah dibahas di atas), maupun melihat langsung gejala pensesaran di lapangan baik berupa bentuk morfologi maupun jejak-jejak pensesaran. Beberapa gejala umum yang dapat digunakan dalam menafsirkan adanya gejala pensesaran, adalah :

1. Adanya gawir sesar, dapat diketahui dari analisis morfologi baik melalui peta topografi, foto udara atau citra landsat serta pengamatan langsung di lapangan. Contoh kasus yang terakhir adalah Sesar Lembang, yang dicirikan dengan adanya tebing bukit yang memanjang relatif barat-timur (gawir sesar) dilihat dari Lembang ke arah selatan. Gawir sesar umumnya terbentuk akibat sesar normal.

2. Adanya jejak-jejak pensesaran berupa breksi sesar dan milonit. Jalur sesar dapat diketahui dengan menarik jalur kelurusan yang melalui beberapa gejala tersebut.

3. Adanya kemiringan bidang lapisan yang cukup besar (>70), mencirikan bahwa di daerah tersebut telah mengalami deformasi yang kuat. Apabila sifat batuannya “Brittle”, maka kemungkinan besar batuannya telah terpatahkan. Dalam hal ini perlu dicari bukti lainnya misal ada/tidaknya sesar minor atau inidikasi lainnya yang menunjang (drag fault, dsb).

4. Adanya cermin sesar merupakan indikasi yang paling penting, karena secara langsung menunjukan adanya proses pensesaran. Namun dalam hal ini harus hati-hati dalam menentukan jenis serta jalur sesarnya

5. Adanya struktur kekar baik yang sifatnya kekar gerus (shear joint) atau tarikan (tension joint). Dalam hal ini perlu dikompilasi dengan data struktur lainnya

6. Adanya drag fault dan drag fold merupakan salah satu indikasi adanya proses pensesaran.

7. Adanya pembentukan sesar, selain gejala pensesarannya dapat diamati langsung di lapangan, juga dapat diketahui dari posisi stratigrafi. Dalam hal ini perlu dibuat penampang geologi.

8. Adanya perbedaan pola lipatan yang mencolok satu dengan lainnya.

9. Adanya pergeseran batas satuan dan atau pergeseran sumbu lipatan.

10. Dijumpai adanya deretan mata air panas

11.Adanya pembelokan sungai yang tiba-tiba (harus hati-hati karena pembelokan sungai ini dapat terjadi karena adanya perubahan sifat fisik batuan).
[Read More...]


C. Penelitian Lapangan



Pemetaan struktur tidak lain adalah melakukan kegiatan lapangan untuk mendapatkan data-data struktur yang selanjutnya direkam ke dalam peta dasar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan/dikerjakan dalam pemetaan struktur, adalah :

a. Penelitian lapangan diprioritaskan pada daerah yang diduga dilalui oleh zona sesar berdasarkan hasil interpretasi foto udara, citra landsat dan topgrafi. Hal ini perlu dilakukan dengan maksud agar penelitian lapangan berlangsung relatif cepat, sistematis dan mengenai sasaran.

b. Mengamati, mengukur, mencatat, membuat sketsa singkapan, ploting data dan menganalisis (analisis sementara) seluruh unsur-unsur struktur yang nampak pada singkapan tersebut. Beberapa penjelasan point b ini adalah sebagai berikut :

- Mengamati, dalam tahapan ini objek singkapan yang diamati dapat berupa bentuk/geometri suatu struktur geologi baik yang utuh maupun tersingkap sebagian. Ada dua tahapan dalam mengamati suatu singkapan, yaitu dari pengamatan dari jarak jauh dan pengamatan dari jarak dekat. Prosedur pengamatan singkapan yang baik diawali dengan memperhatikan singkapan dari jarak jauh sehingga seluruh singkapan dapat teramati dengan pandangan luas, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui gambaran struktur secara lebih utuh dan yang terpenting adalah untuk menentukan pada singkapan bagian mana yang perlu mendapatkan perlakuan khusus. Langkah pengamatan yang kedua adalah mengamati singkapan dari jarak dekat. Pengamatan singkapan dari jarak dekat ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran struktur yang lebih detail. Pengamatan struktur tidak hanya ditujukan pada bentuk geometrinya, namun perlu pula diamati jejak-jejak yang diakibatkan oleh aktifitas pensesaran, misalnya milonit, breksi sesar, lipatan seret dsb. Beberapa contoh kasus ini, misalnya :

a). Pengamatan jarak jauh : Tersingkap suatu bentuk lapisan batuan yang terlipat utuh . Dalam hal ini yang perlu diamati adalah bagaimana bentuk lipatannya, apakah antiklin atau sinklin, simetri atau tidak, bagaimana ukuran lipatannya besar atau kecil, bagaimana batas akhir dari struktur lipatan yang tersingkap tersebut berakhir oleh batas sesar ataukah hilang karena ditutupi oleh batuan penutup/vegetasi atau menerus ke bawah permukaan. Lebih jauh lagi apakah lipatan tersebut disertai dengan gejala pensesaran atau tidak, selanjutnya perlu pula diamati sifat fisik batuan penyusunnya, apakah bersifat ductile (lentur), brittle (keras) atau kombinasi antara keduanya.

Pengamatan jarak dekat : Apabila batas singkapan tersebut dikontrol oleh sesar, maka perlu diperhatikan apakah ada jejak-jejak pensesaran, jika ada bagaimana sifat pergeserannya, apabila dijumpai breksi sesar bagaimana arah liniasinya, dsb.

b). Dijumpai suatu singkapan batuan di tebing sungai dengan bentuk geometri strukturnya tidak utuh. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah bagaimana gambaran umum posisi dan kedudukan lapisan batuannya, apakah kemiringan lapisannya landai atau relatif horizontal, sedang atau besar. Faktor ini dapat menunjukan tingkat deformasi dan selanjutnya dapat memperkirakan apakah sipemeta berada pada zona sesar atau tidak.

- Mengukur, artinya kita mengukur seluruh unsur-unsur struktur yang tersingkap di lapangan. Misalnya mengukur jurus dan kemiringan bidang lapisan, bidang kekar, bidang sesar; Mengukur besarnya sudut pitch, plunge, bearing dsb. Untuk kepentingan analisis sistem tegasan, data yang diperlukan adalah data bidang lapisan, kekar dan sesar. Data bidang lapisan dan kekar berupa jurus dan kemiringan (dalam hal ini untuk data kekar, harus diketahui jenisnya : tension joint atau shear joint), sedangkan data cermin sesar yang diperlukan adalah jurus dan kemirinan bidang sesar, pitch, arah pitch, plunge dan sifat pergeserannya. Perlu pula diberi penjelasan apakah cermin sesar tersebut merupakan sesar minor atau atau sesar major.

- Sketsa/foto, untuk memudahkan dalam analisis perlu kiranya kita membuat sketsa singkapan dan beberapa penampang. Kelebihan dari membuat sketsa ini adalah dapat menggambarkan sesuatu yang sifatnya detail dan secara langsung memberikan keterangan gambarnya. Foto diperlukan sebagai bahan analisis (sama dengan sketsa) dan untuk dokumentasi dalam pembuatan laporan.

- Analisis sementara, Setelah dilakukan observasi singkapan dan membuat sketsa singkapan, selanjutnya dilakukan analisis sementara khusus di lokasi tersebut. Analisis ini perlu dilakukan untuk memecahkan permasalahan dan menyimpulkan pembentukannya, sehingga memudahkan dalam analisis selanjutnya.


- Plotting Data, Posisi singkapan selanjutnya diplot ke dalam peta dasar, dengan memberikan nomor lokasi dan apabila perlu diberikan simbol struktur yang diamati. Memplot data struktur ke dalam peta harus tepat pada posisi sebenarnya, karena data dasar ini akan digunakan dalam tahap penafsiran dan analisis selanjutnya.
[Read More...]


B. Interpretasi foto udara, citra landsat dan topografi



Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan gambaran umum pola struktur yang berkembang di daerah penelitian berdasarkan analisis morfologinya.

Ada beberapa cara untuk mendapatkan gambaran struktur suatu daerah, yaitu dengan mengamati adanya liniament yang mungin disebabkan oleh proses pensesaran. Cara ini dilakukan melalui penafsiran peta topografi, foto udara dan citra indraja. Penjelasan rinci dari point ini adalah sebagai berikut :

a. Interpretasi struktur melalui topografi

• Menafsirkan jalur struktur berdasarkan ada/tidaknya lineament (dapat berupa garis lurus atau lengkung) dan menggambarkannya secara tegas atau terputus-putus. Pola lineament tersebut selanjutnya ditampilkan dalam bentuk diagram roset dan yang terpenting dibuat peta linieamentnya.

• Mengamati kerapatan kontur. Apabila dijumpai adanya perbedaan kerapatan kontur yang mencolok maka dapat ditafsirkan pada batas-batas perbedaannya merupakan akibat pensesaran dan umumnya fenomena ini diakibatkan oleh sesar normal. Perlu pula diperhatikan fenomena tersebut dapat saja terjadi akibat perubahan sifat fisik batuan.


• Mengamati bentuk morfologi, misalnya :
- Apabila bentuk punggungan bukit memanjang barat-timur, dan apabila daerah tersebut disusun oleh batuan sedimen klastika (dari literatur), maka dapat ditafsirkan bahwa jurus perlapisan batuannya adalah barat-timur sesuai dengan arah punggungannya..

- Apabila ada suatu bentuk morfologi perbukitan dimana pada salah satu lereng bukitnya landai (kerapatan kontur jarang) dan dibagian sisi lereng lainnya terjal, maka ditafsirkan kemiringan (arah “dip”) lapisan tersebut ke arah bermorfologi lereng yang landai, morfologi yang demikian dikenal sebagai Hog back.

- Apabila ada suatu punggungan perbukitan dengan arah dan jalur yang sama, namun pada bagian tertentu terpisahkan oleh suatu lembah (biasanya juga berkembang aliran sungai) atau posisi jalur punggungannya nampak bergeser, maka dapat ditafsirkan di daerah tersebut telah mengalami pensesaran dan fenomena tersebut umumnya terjadi akibat sesar mendatar, sesar normal atau kombinasi keduannya.
- Apabila suatu daerah bermorfologi perbukitan, dimana punggungan bukitnya saling sejajar dan dipisahkan oleh lembah sungai, maka kemungkinan daerah tersebut merupakan perbukitan struktural lipatan-anjakan.

- Apabila suatu daerah bermorfologi pedataran, maka batuan penyusunnya dapat berupa aluvium atau sedimen lainnya yang mempunyai kemiringan bidang lapisan relatif horizontal. Kondisi ini umumnya menunjukan bahwa umur batuan masih muda dan relatif belum mengalami derformasi akibat tektonik (lipatan dan sesar belum berkembang).


• Mengamati pola pengaliran sungainya. Dengan cara ini dapat membantu dalam menafsirkan batuan penyusun serta struktur geologinya, misalnya :
- Pola pengaliran trelis dan paralel, mencerminkan bahwa batuan di daerah tersebut sudah mengalami pelipatan.

- Pola pengaliran sejajar ditafsirkan bahwa daerah tersebut telah mengalami proses pensesaran.

- Pola pengaliran rektangular mencerminkan bahwa daerah tersebut banyak berkembang kekar.

- Pola pengaliran dendritik mencerminkan batuan penyusun yang relatif seragam. Dsb.



b. Interpretasi struktur melalui foto udara dan citra landsat.


Pada dasarnya interpretasi struktur dengan cara ini, tidak berbeda dengan cara di atas. Perbedaanya terletak pada kualitas dan kejelasan bentuk permukaan morfologinya. Misalnya lineament yang tidak nampak peta topografi mungkin akan nampak jelas terlihat pada foto udara atau landsat.
[Read More...]


A. STUDI PUSTAKA



Pada tahapan ini dipelajari teori/konsep yang berkaitan dengan struktur geologi, mencakup geometri dan proses pembentukannya (dinamika dan kinematika). Selanjutnya perlu dipelajari pula kondisi geologi daerah yang akan diteliti beserta geologi regionalnya. Hal ini perlu dilakukan sebagai bahan informasi yang nantinya diperlukan dalam analisis selanjutnya.

Tahapan ini memegang peranan penting, tanpa mengerti dan mengetahui struktur - struktur geologi, akan sangat sulit untuk melanjutkan ke tahapan selanjutnya
[Read More...]


Langkah Penelitian Struktur Geologi



Dalam penelitian Struktur Geologi, terdapat langkah - langkah yang harus di lalui:

A. Studi pustaka
B. Interpretasi foto udara, citra landsat dan topografi
C. Penelitian Lapangan
D. Gejala Umum Akibat Proses Pensesaran
E. Pengolahan Data
F. Analisis Data
G. Pembuatan Laporan
H. Pembuatan Peta

Tiap tahapan penelitian akan di bahas dalam satu posting.
[Read More...]


Pendahuluan Pemetaan Geologi Struktur



Pemetaan geologi struktur bertujuan untuk mendapatkan gambaran struktur/tektonik di suatu daerah/wilayah, sehingga penyebaran, jenis serta genetik pembentukannya dapat diketahui.

Dalam pemetaan geologi struktur, kegiatan yang perlu dilakukan adalah mengamati, mengukur dan menganalisis gejala-gejala struktur yang tersingkap di lapangan.
Gejala struktur di lapangan dapat berupa struktur bidang maupun garis (bidang sesar, bidang kekar, gores-garis, bidang lapisan, gores-garis, cleavage, dsb) dan dapat pula merupakan jejak-jejak struktural lainnya (breksi sesar, milonit dsb). Disamping adanya bentuk geometri, juga dikenal adanya bentuk morfologis topografi misalnya kelurusan topografi, kelurusan dan kelokan sungai, bergesernya punggungan bukit dsb.

Pengetahuan geologi struktur wajib dipahami oleh seseorang yang akan melakukan pemetaan geologi, terlebih lagi bagi yang khusus meneliti tektonik suatu daerah. Kualitas hasil penelitian geologi struktur salah satunya tergantung pada tingkat kemampuan seseorang dalam menguasai ilmu geologi struktur.

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang maksimal dari kegiatan pemetaan struktur ini, dilakukan beberapa tahapan, yaitu :

a. Pendahuluan :
- Studi Pustaka
- Interpretasi foto udara, citra landsat (citra indraja) dan topografi.

b. Penelitian Lapangan
- Pengamatan, pengukuran, pencatatan data, pembuatan sketsa, analisis sementara dan plotting data struktur ke dalam peta dasar.

c. Penelitian Laboratorium/studio
- Pengolahan data
- Pembuatan penampang struktur dan peta struktur

d. Analisis data secara menyeluruh
- Melakukan analisis tektonik daerah penelitian yang bersesuaian dengan konsep/teori struktur geologi dan membandingkannya dengan tektonik regional yang berkaitan dengan daerah penelitian.

e. Laporan hasil penelitian
- Seluruh hasil analisis tersebut dituangkan ke dalam buku laporan yang didalamnya disertai peta struktur beserta penampang strukturnya.
[Read More...]


SUMATRA FAULT (Perkembangan Sesar Besar Sumatra)



Perkembangan Tatanan Tektonik Indonesia

Pada 50 juta tahun yang lalu (Awal Eosen), setelah benua kecil India bertubrukan dengan Himalaya, ujung tenggara benua Eurasia tersesarkan lebih jauh ke arah tenggara dan membentuk kawasan Indonesia bagian barat. Saat itu di kawasan Indonesia bagian timur masih berupa laut (laut Filipina dan Samudra Pasifik). Lajur penunjaman yang bergiat sejak akhir Mesozoikum di sebelah barat Sumatera, menyambung ke selatan Jawa dan mengalir ke tenggara-timur Kalimanyan-Sulawesi Barat, mulai melemah pada Paleosen dan berhenti pada kala Eosen.

Pada 45 juta tahun yang lalu. Lengan Sulawesi terbentuk bersamaan dengan jalur Ofiolit Jamboles. Sedangkan jalur Ofiolit Sulawesi Timur masih berada di belahan selatan bumi.

Pada 20 juta tahun lalu benua-benua mikro bertubrukan dengan jalur Ofiolit Sulawesi Timur, dan Laut Maluku terbentuk sebagian dari Laut Philipina.Laut Cina selatan mulai membuka dan jalur tunjaman di utara Serawak-Sabahm, mulai aktif.

Pada 10 juta tahun yang lalu, benua mikro Tukang Besi-Buton bertubrukan dengan jalur Ofiolit di Sulawesi Tenggara, tunjaman ganda bertubrukan dengan jalur Ofiolit di Sulawesi Tengara, tunjaman ganda terjadi di kawasan Laut Maluku, dan Laut Serawak terbentuk di Utara Kalimantan.

Pada 5 juta tahun yang lalu, benua mikro Banggai-Sula bertubrukan dengan jalur Ofiolit Sulawesi Timur, dan mulai aktif tunjangan miring di utara Irian Jaya-Papua Nugini.

Fenomena Geotektonik di Sumatera dan Palung Jawa

Sebagian daerah tempat bertemunya tiga lempeng dunia yaitu Australia, Eurasia, dan Pasifik, Indonesia merupakan daerah yang rawan gempa bumi. Hampir seluruh Nusantara ini kecuali Kalimantan kerapkali diguncang gempa bumi. Daerah yang paling rawan adalah Sumatera yang dibelah oleh patahan Semangko yang membujur dari Aceh hingga Lampung. Karena itu gempa dasyat berkekuatan 7 skala Richter, tercatat sering menerjang daerah sepanjang patahan terutama Sumatera Utara, Bengkulu, dan Lampung, hingga menimbulkan korban jiwa dan harta benda. Jalur sesar Sumatera itu diketahui tidak hanya dibentuk di daratan tetapi hingga berlanjut hingga ke perairan Selat Sunda.Ujung selatan Selat Sunda berjarak 50 km dari Teluk Semangko di ujung Sumatera atau sekitar 200 km sebelah selatan kota Pelabuhan Ratu. Hal itulah yang menyebabkan mengapa daerah di selatan sekitar Selat Sunda pun tak luput dari guncangan gempa.




Patahan Besar Sumatera

Aktivitas sesar Sumatera dipicu oleh adanya interaksi pertamuan lempeng di Samudera Hindia, yang membentang disebelah barat Sumatera hingga ke selatan Jawa dan Bali.Dalam hal ini, Lempeng Indo-Australia menujam lempenga Eurasia. Di barat Sumatera berdesakan lempeng Indo-Australia yang lebih aktif mengarah ke utara dengan kecepatan 7 sentimeter per tahun, sedangkan di serlatan Jawa kecepatannya 6 sentimeter per tahun.

Adanya Subduksi aktif dan patahan di Sumater menyebabkan munculnya Bukit Barisan sejajar patahan, yang merupakan lapisan permukaan tanah yang terangkat. Sementara itu, di Selat Sunda terjadi mekanisme tekanan dan regangan, yang menimbulkan struktur geologi yang unik seperti munculnya Gunung Krakatau di selat itu.
Sepanjang Bukit Barisan berderet-deret lembah yang lurus memanjang, seperti lembah Semangko (Teluk Semangko di Lampung), Lembah Kepahiang, Ketahun, Kerinci, Muara Labuh, Singkarak Maninjau, Rokan Kiri, Gadis, Angkola, Alas , Tangse, dan Aceh. Lembah-lembah ini merupakan zona lemah Patahan Besar Sumatera. Disini kulit bumi retak, dan satu sisi dengan sisi lainnya bergerah horizontal. Pergerakan pada umumnya ke kanan, yaitu blok timur bergerak ke tenggara dan blok barat sebaliknya.
Di sepanjang Bukit Barisan ditemukan perisai-perisai yang diatasnya terletah sejumlah besar graben-graben. Graben-graben yang terletak diatas kulminasi Bukit barisan ini peda umumnya berbentuk tidak memanjang, akan tetapi berupa persegi empat. Hal ini disebabkan karena bentuk memanjang dari graben itu telah diganggu oleh aktivitas vulkanik yang kemudian membentuk depressi vulkano-tektonik.
Zona patahan Sumatera mengandung batuan-batuan vulkanik asam, aliran tufa pasir dan tuf berbatuapung. Hal ini disebabkan patahan-patahan ini terletak di daerah orogen dan besar kemungkinan batuan asam lelehan ini bersumber dari batu granit yang terletak dibawahnya.



Perkembangan Struktur Sesar Sumatera (Eosen-Recent)

A. Eosen Awal-Oligisen Awal
Pada jaman Eosen gerak lempeng Hindia-Australia mencapai 18 cm/thn dengan arah utara, sedangkan menjelang Oligosen berkurang hingga mencapai hanya 3 cm/thn saja. Kemudian terjadi perubahan arah gerak beberapa derajat ke arah timur.
Kondisi ini mengakibatkan sesar mendatar ‘dextral’ Sumatera yang mulai terbentuk akan menimbulkan pola rekahan sepanjang sesar, sebagian respon terhadap gerak gesernya. Pembentukan rekahan ini kemungkinan dimulai di Sumatera Selatan dan terus berkembang ke utara (DAVIES, 1987).

Gerak-gerak mendatar pada pasangan sesar yang bertenaga (“overstepping wrench”) akan membentuk cekungan local (pull apart basin).

B. Oligosen Akhir-Miosen Awal
Terjadi gerak rotasi yang pertama dari lempeng mikro sunda sebesar 20° kearah yang berlawanan dengan arah jarum jam, disertai dengan pemisahan Sumatera dari Semenanjung Malaya.

Rotasi yang pertama ini masih belum dapat menempatkan kedudukan sumatera kedalam keadan dimana interaksi antar kedua lempeng akan mampu menimbulkan terjadinya tegasan ‘kompresi’.

C. Miosen Tengah
Terjadi kembali sesar-sesar, bersamaan dengan berhentinya rotasi lempeng mikro sunda.

D. Miosen Atas sampai Sekarang
Terjadi gerak rotasi yang kedua saebesar 20-25° kearah yang berlawanan dengan jarum jam, yang dipicu oleh membukanya laut Adaman. Pada saat ini interaksi antara lempeng Hindia-Australia dengan lempeng Sunda sudah meningkat dari 40° menjadi hampir 65°, yang menimbulkan terjadinya tegasan ‘kompresi’. Keadaan ini menyebabkan pengankatan bukit barisan Dan pengangkatan kegiatan volkanisme.

Sebagai akibat daripada rotasi yang bekelanjutan ini, mengakibatkan terbentuknya jalur subduksi dan sesar-sesar mendatar di barat Dan perubahan status daripada pola-pola sesar di cekungan Sumatera Timur. Sesar-sesar Paleogen yang berarah utara-selatan, berubah menjadi baratlaut-tenggara, sedangkan yang berarah timurlaut-baratdaya (sesar normal), menjadi utara-selatan. Karen lingkungan tegasannya berubah, maka sesar-sesar mendatar yang berubah menjadi baratlaut-tenggara, menjadi aktif kembali sebagai sesar naik dengan kemirinagn curam, sedangkan sesar normal yang berubah menjadi utara-selatan, aktif kembali menjadi sesar mendatar (dextral).



Kontinuitas Sesar Sumatera


Posisi yang menyudut atau miring terhadap khatulistiwa dan Jawa yang sejajar khatulistiwa menimbulkan mekanisme tektonik yang unik. Berdasarkan catatan sejarah kebumian, Pulau sumatera beribu-ribu tahun yang lalu pernah mengalami rotasi dari posisi sejajar ke posisi menyudut dengan khatulistiwa, seperti yang terlihat sekarang ini.

Jalur sesar Sumatera diketahui tidak hanya terbentuk di daratan, tetapi juga hingga keperairan Selat Sunda. Jarak ujung patahan yang ada sekitar 50 kilometer dari teluk semangko. Secara ilmiah, daerah Selat Sunda ini menarik karena tidak ditemui fore arc basin.

Patahan geser Sumatera (Sumatera Fault Zone) menerus keselatan melalui Selat Sunda dan memotong daerah prisma akresi sepanjang kerang lebih 350 kilometer adapun ujung dari patahan ini berada pada jarak sekitar 200 kilometer sebelah selatan Kota Pelabuhan Ratu.
[Read More...]


TEKTONIKA - SESAR (FAULT)



Tektonika pada dasarnya mempelajari struktur geologi dalam skala regional hingga global. Oleh karenanya dalam pembahasan lebih ditekankan pada materi yang berkaitan dengan teori Tektonik Global atau dikenal sebagai teori Plate Tektonik.
Dalam materi yang akan di bahas di dalamnya dititikberatkan pada masalah teori Plate Tektonik beserta Structural Styles dan Habitat strukturnya yang terbentuk akibat aktifitas gerak antar lempeng. Seperti diketahui bahwa pada dasarnya kulit bumi terdiri atas berbagai macam mozaik yang masing-masing dapat berbeda jenis dan saling bergerak. Gerak lempeng pada dasarnya horisontal sehingga gerak antar lempeng dapat saling berpapasan (transform), bertumbukan (subduction/obduction) atau bergerak saling menjauh (rifting). Masing-masing lingkungan tektonik ini (habitat) akan menghasilkan produk batuan dan struktur yang khas.
Sebelum membahas masalah tektonika akan dijelaskan kembali mengenai materi geologi struktur secara garis besar dengan maksud untuk mengingatkan kembali agar lebih mudah memahami kuliah Tektonika.
Sistem tegasan yang bekerja pada suatu material/batuan dapat menyebabkan terjadinya perubahan atau deformasi. Apabila tegasan tersebut menyebabkan batuan pecah dan pecahannya relatif saling bergerak maka bidang patahannya dinamakan sebagai struktur patahan atau struktur sesar (“brittle failure”). Pada ujung atau tepi jalur patahan, umumnya batuan terdeformasi berupa lipatan yang mencerminkan semi brittle/ductile.
Gerak suatu batuan akibat proses pensesaran terjadi disepanjang bidang sesarnya, sedangkan arah geraknya dapat diketahui dari jejak-jejak pergeserannya berupa gores garis (Slicken line), atau indikasi lainnya seperti drag fault dsb.
Secara garis besarnya, gerak sesar ini dibedakan menjadi gerak mendatar (strike slip), gerak vertikal (dip slip) dan gerak miring (oblique slip). Strike slip terjadi apabila Pembentukan masing-masing jenis gerak sesar ini dipengaruhi oleh sistem tegasan.

SESAR ( FAULT )

1.2.1. TERMINOLOGI SESAR
Beberapa ahli geologi struktur secara umum mengartikan struktur sesar sebagai bidang rekahan yang disertai oleh adanya pergeseran. Beberapa definisi yang lengkap dari sebagian ahli geologi struktur tersebut, antara lain :



Billing (1959) :
Sesar didefinisikan sebagai bidang rekahan yang disertai oleh adanya pergeseran relatif (displacement) satu blok terhadap blok batuan lainnya. Jarak pergeseran tersebut dapat hanya beberapa milimeter hingga puluhan kilometer, sedangkan bidang sesarnya mulai dari yang berukuran beberapa centimeter hingga puluhan kilometer.

Ragan (1973) :
Sesar merupakan suatu bidang rekahan yang telah mengalami pergeseran.

Park (1983) :
Sesar adalah suatu bidang pecah (fracture) yang memotong suatu tubuh batuan dengan disertai oleh adanya pergeseran yang sejajar dengan bidang pecahnya.


GEOMETRI DAN KLASIFIKASI
Unsur-unsur geometri sesar penting dipelajari untuk mengetahui sifat gerak dari proses pensesaran, disamping digunakan sebagai dasar dalam penamaan jenis sesar sesuai dengan klasifikasi sesar yang ada.

2.1. Geometri Sesar dan tata nama
Untuk mempelajari sesar terlebih dahulu harus mengetahui unsur-unsur geometri dari sesar itu sendiri. Beberapa unsur geometri sesar yang perlu diketahui, antara lain :

a. Fault surface (Bidang Sesar) adalah bidang pecah pada batuan yang disertai oleh adanya pergeseran
b. Fault line (Garis Sesar) adalah garis yang dibentuk oleh perpotongan bidang sesar dengan permukaan bumi.
c. Fault trace adalah jejak sesar
d. Fault outcrop adalah singkapan sesar
e. Fault scarp adalah gawir sesar
f. Fault zone adalah zona sesar
g. Fault wall adalah dinding sesar
h. Hanging Wall adalah blok yang berada di atas bidang sesar
i. Foot Wall adalah blok yang berada di bawah bidang sesar
j. Hade adalah sudut lancip antara bidang sesar dengan bidang vertikal
k. Slip adalah pergeseran relatif antara dua titik yang sebelumnya saling berimpit.
l. Strike slip fault adalah pergeseran blok pada bidang sesar yang sejajar dengan jurus bidang sesarnya.
m. Dip slip fault adalah pergeseran blok pada bidang sesar yang tegak lurus terhadap jurus bidang sesarnya atau sejajar dengan arah kemiringan bidang sesarnya.
n. Heave adalah jarak pergeseran pada bidang horisontal
o. Throw adalah jarak pergeseran pada bidang vertikal
p. True displacement adalah arah dan besarnya jarak pergeseran blok yang sebenarnya
q. Dip of fault adalah sudut yang dibentuk antara bidang sesar dengan bidang horisontal
r. Strike of fault adalah garis yang dibentuk oleh perpotongan bidang sesar dengan bidang horisontal.
s. Sense of displacement adalah gerak relatif suatu blok terhadap blok yang berada di hadapannya ( Untuk strike slip adalah sinistral atau dekstral, sedangkan untuk dip slip adalah normal atau naik).
t. Separation atau pergeseran semu adalah jarak tegak lurus antara dua blok yang bergeser dan diukur pada bidang sesar.
u. Strike separation adalah komponen separation yang diukur sejajar terhadap jurus bidang sesar.
v. Dip separation adalah komponen separation yang diukur sejajar dengan kemiringan bidang (dip) sesar.
w. Slicken side atau cermin sesar adalah bidang sesar yang permukaannya licin.
x. Slicken line atau gores garis adalah jejak pergeseran berupa garis-garis lurus (kadang melengkung) yang disebabkan oleh gerusan antar blok yang saling bergesekan.
y. Pitch adalah sudut lancip yang dibentuk antara gores garis dengan jurus bidang sesar.


2.2. Klasifikasi Sesar

Sesar dapat diklasifikasikan berdasarkan :
a. Orientasi pola tegasan utama.
b. Gerak relatifnya (Sense of displacement) dan unsur geometrinya.
c. Rake dari net slip.
d. Separation dan slip.
e. Dip of fault dan pitch of net slip.
f. Tipe gerakannya.

Di bawah ini akan dibahas beberapa pendapat ahli geologi struktur dalam membuat klasifikasi sesar, yaitu antara lain :

1. Anderson (1951), membuat klasifikasi sesar berdasarkan pada pola tegasan utama sebagai penyebab terbentuknya sesar (Gambar 2.1). Berdasarkan pola tegasannya ada 3 (tiga) jenis sesar, yaitu sesar naik (thrust fault), sesar normal (normal fault) dan sesar mendatar (wrench fault).
a. Normal fault, jika tegasan utama atau tegasan maksimum (1) posisinya vertikal
b. Wrench fault, jika tegasan menengah atau intermediate (2) posisinya vertikal
c. Thrust fault, jika tegasan minimum (3) posisinya vertikal.

2. Angelier (1979), membuat klasifikasi sesar berdasarkan gerak relatifnya (Sense of displacement) dan unsur geometrinya (Gambar 2.2.), berupa gores-garis (R), pitch (i), sudut kemiringan (dip) bidang sesar (), pergeseran vertikal atu throw (RV), pergeseran transversal atau heave (RHT) dan pergeseran longitudinal (RHL). Jenis sesar di dalam klasifikasi ini tergantung pada besarnya nilai RHL dan RHT. RHL dan RHT ditentukan berdasarkan besarnya pitch dan dip. Secara matematis adalah :
• RHL = R cos I
• RHT = R sin i cos 
• RV = R sin i sin 
Berdasarkan pada nilai RHL dan RHT, maka sesar dapat dikelompokan menjadi :
a. Sesar naik/normal mendatar, yaitu apabila RHT > RHL
b. Sesar mendatar naik/normal, apabila RHL > RHT
c. Sesar naik atau normal murni, apabila RHT > 90% (Pitch > 80).
d. Sesar mendatar murni , apabila RHL > 90% (Pitch < 10).

3. Billing (1977), Ada 5 (lima) aspek dalam membuat klasifikasi sesar, yaitu :
1). Rake dari net slip.
2). Kedudukan sesar relatif terhadap kedudukan batuan yang ada di sekitarnya,
3). Pola sesar,
4). Sudut kemiringan sesar
5). Pergerakan relatif sesar.

Penjelasan masing-masing klasifikasi sesar tersebut di atas adalah sebagai berikut :
 Berdasarkan Rake dari net slip, sesar dikelompokan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu strike slip fault, dip slip fault dan diagonal slip fault.
a. strike slip fault, apabila net slip sejajar dengan jurus bidang sesar. Dalam hal ini tidak ditemukan komponen dip slip atau besarnya rake net slip = 0.
b. Dip slip fault, apabila tidak ditemukan komponen strike slip atau rake net slip = 90.
c. Diagonal slip fault, apabila rake net slip lebih besar dari 0 dan lebih kecil dari 90 atau mempunyai komponen strike slip dan dip slip.

 Berdasarkan kedudukan sesar relatif terhadap kedudukan batuan yang ada di sekitarnya. Berdasarkan hal tersebut di atas, ada 6 (enam) jenis sesar, yaitu Sesar jurus (Strike fault), Sesar perlapisan (Bedding fault), Sesar kemiringan (Dip fault), Sesar diagonal (Oblique or diagonal fault), Sesar Longitudinal (Longitudinal fault) dan Sesar transversal (Transverse fault).
• Sesar jurus (Strike fault) adalah sesar yang arah jurusnya sejajar dengan arah jurus batuan di sekitarnya (Gambar 2.3).
• Sesar perlapisan (Bedding fault) adalah sesar yang jurusnya sejajar dengan bidang perlapisan batuan (Gambar 2.4).
• Sesar kemiringan (Dip fault) adalah sesar yang jurusnya tegak lurus terhadap jurus perlapisan batuan di sekitarnya (Gambar 2.5).
• Sesar diagonal (Oblique or diagonal fault) adalah sesar yang jurusnya membentuk sudut lancip dengan jurus lapisan batuan yang ada di sekitarnya (Gambar 2.6).
• Sesar Longitudinal (Longitudinal fault) adalah sesar yang jurusnya sejajar dengan jurus struktur regional di daerah tersebut (Gambar 2.7).
• Sesar transversal (Transverse fault) adalah sesar yang arah jurusnya membentuk sudut atau tegak lurus terhadap arah umum jurus lapisan batuan di daerah dimana sesar tersebut berada (gambar 2.8).
 Berdasarkan Pola sesar, jenis sesar terdiri atas Sesar sejajar (parallel fault), Sesar en echelon, Sesar periferal (Peripheral fault) dan Sesar radial (Radial fault).
• Sesar sejajar (parallel fault) adalah kumpulan sesar yang memiliki jurus dan kemiringan yang relatif sama (Gambar 2.9).
• Sesar en echelon adalah kumpulan sesar yang relatif pendek dan saling tumpang tindih (gambar 2.10).
• Sesar periferal (Peripheral fault) adalah kumpulan sesar berbentuk lingkaran atau setengah lingkaran yang mengelilingi suatu daerah (Gambar 2.11).
• Sesar radial (Radial fault) adalah suatu sistem sesar yang mengumpul pada suatu titik atau menyebar dari satu titik (Gambar 2.12).

 Berdasarkan pada Sudut kemiringan sesar, jenis sesar ada 2 (dua) macam, yaitu sesar bersudut besar dan sesar bersudut kecil.
• Sesar bersudut besar (hight angle fault) adalah sesar yang sudut kemiringannya lebih besar dari 45 (Gambar 2.13).
• Sesar bersudut kecil (low angle fault) adalah sesar yang sudut kemiringannya lebih kecil dari 45(Gambar 2.14).

5). Pergerakan relatif sesar, ada 4, yaitu sesar naik, sesar mendatar, sesar normal dan sesar oblique.

4. Ragan (1959), membuat klasifikasi sesar berdasarkan :
a). separation
b). slip.
Penjelasannya adalah sebagai berikut :
a. Berdasarkan Separation (Gambar 2.15), sesar dikelompokan mejadi 3 (tiga), yaitu Dip separation fault, Strike separation fault dan Combined separation fault.
• Dip separation fault, terdiri atas Normal separation fault, reverse separation fault dan Thrust separation fault.
• Strike separation fault, terdiri atas Left lateral separation fault dan Right separation fault.
• Combined dip and strike separation fault, merupakan kombinasi dip dan strike separation, misalnya Normal left lateral separation fault, dsb.

b. Berdasarkan Slip (Gambar 2.16), sesar dikelompokan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu Dip slip, Strike slip dan Oblique slip.
• Dip slip, terdiri atas Normal slip fault, Reverse slip fault dan Thrust slip fault.
• Strike slip, terdiri atas Right lateral slip fault dan Left lateral slip fault.
• Oblique slip, terdiri atas Normal right lateral slip fault dan reverse left lateral slip fault.

5. Rickard (1972), mengklasifikasikan sesar berdasarkan dip of fault dan pitch of net slip. Berdasarkan parameter tersebut jenis sesar ada 6 kelompok besar, yaitu Left slip, Right slip, Thrust slip, Reverse slip, Normal slip dan lag slip. Jenis sesar dapat merupakan kombinasi dari ke enam kelompok jenis sesar tersebut, sehingga secara keseluruhan dijumpai ada 22 jenis sesar (Gambar 2.17), yaitu : Thrust slip fault (1), Reverse slip fault (2), Right thrust slip fault (3), Thrust right slip fault (4), Reverse right slip fault (5), Right reverse slip fault (6), Right slip fault (7), Lag right slip fault (8), Right lag slip fault (9), Right normal slip fault (10), Normal right slip fault (11), Lag slip fault (12), Normal slip fault (13), Left lag slip fault (14), Lag left slip fault (15), Normal left slip fault (16), Left normal slip fault (17), Left slip fault (18), Thrust left slip fault (19), Left thrust slip fault (20), Left reverse slip fault (21), Reverse left slip fault (22).




6. Spencer (1988), mengklasifikasikan sesar berdasarkan tipe gerakannya, yaitu sesar translasi dan sesar rotasi (Gambar 2.18).
a. Sesar translasi adalah jenis sesar yang pergerakannya sepanjang garis lurus.
b. Sesar rotasi adalah jenis sesar yang sifat pergeserannya mengalami perputaran.


2.3. Sistem Sesar

Secara umum ada 3 (tiga) kelompok sesar utama, yaitu sesar naik, sesar normal dan sesar mendatar. Sebenarnya ada satu jenis sesar lainnya, yaitu sesar miring (Oblique fault), yang merupakan kombinasi dari beberapa jenis sesar.
Terbentuknya struktur sesar di suatu daerah umumnya tidak tunggal, artinya suatu sesar yang terbentuk akibat tektonik (waktu dan tempatnya sama) disuatu daerah selalu terjadi lebih dari satu jalur sesar dengan ukuran yang bervariasi. Kelompok struktur sesar demikian dinamakan sistem sesar.

2.3.1. SESAR NAIK

Sesar naik atau Thrust fault, terjadi apabila hanging wall relatif bergerak naik terhadap foot wall. Berdasarkan sistem tegasan pembentuk sesarnya, posisi tegasan utama dan tegasan minimum adalah horizontal dan tegasan menengah adalah vertikal (Gambar 2.19).

Umumnya sesar naik tidak pernah berdiri sendiri atau berkembang tunggal. Sesar selalu membentuk suatu zona (fault zone), sehingga pada zona sesar dijumpai sejumlah bidang sesar. Masing-masing bidang sesar tersebut membentuk pola yang sama, yaitu bidang sesar umumnya memiliki arah kemiringan yang sama dan arah jalur sesarnya relatif sama. Sejumlah sesar naik (Thrust zone) yang terbentuk pada periode tektonik yang sama dinamakan sebagai Thrust Systems (Boyer dan Elliott, 1982). Pada Thrust System (Gambar 2.20), ada dua jenis pola sesar utama, yaitu Imbricate Fan dan Duplexes. Pola struktur Imbricate Fan dicirikan dengan adanya Thrust sheet yang di dalamnya berkembang struktur lipatan asimetri dan rebah mengikuti arah Tectonic transport, sedangkan di dalam pola Duplex , Thrust sheet dilingkupi oleh sesar (Boyer dan Elliott, 1982).
Sesar naik dengan pola Imbricate fan atau pola susun genteng dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu Trailling imbricate fan dan Leading imbricate fan. Kedua jenis pola sesar tersebut dibedakan berdasarkan besarnya jarak pergeseran (Dispclacement). Trailling imbricate fan dicirikan oleh adanya displacement yang besar pada bagian paling belakang dari seluruh sesar naik (dilihat dari Tectonic transport), sebaliknya dinamakan Leading imbricate fan.
Sesar naik dapat dibedakan jenisnya berdasarkan pada posisi bidang sesar terhadap sumbu lipatan dan arah tectonic transport. Sesar naik yang terbentuk dibagian belakang sumbu lipatan dinamakan sebagai Forelimb thrust, sedangkan yang berkembang dibagian depan sumbu lipatan dinamakan sebagai Backlimb thrust. Berdasarkan pada tectonic transportnya, sesar naik dibedakan menjadi Back thrust dan Fore thrust. Apabila gerak relatif dari sesar naik searah dengan pada tectonic transportnya,, maka sesar naik tersebut dinamakan sebagai fore thrust dan sebaliknya dinamakan sebagai Back thrust. Back thrust yang terbentuk di dalam Thrust system dapat membentuk Pop-up dan Triangle zone.
Didalam Thrust system, posisi bidang sesar dapat relatif sejajar dengan bidang lapisan batuan yang dinamakan sebagai flat dan apabila memotong bidang lapisan dinamakan sebagai ramp. Apabila posisi flat searah dengan Tectonic transport dinamakan frontal ramp dan sebaliknya dinamakan sebagai back thrust.
Gerak relatif suatu blok terhadap blok yang lainnya dapat terjadi sepanjang flat dan ramp. Blok hanging wall yang menumpang di atas flat dinamakan sebagai hangingwall ramp sedangkan blok foot wall yang berada di bagian ramp dinamakan sebagai footwall ramp.
Terbentuknya sejumlah sesar naik tidak terjadi secara bersamaan melainkan terbentuk secara berurutan (Sequence of thrusting). Apabila urutan pembentukan sesar naiknya makin muda ke arah hanging wall dinamakan sebagai overstep dan jika terjadi sebaliknya dinamakan sebagai piggyback.
Pembentukan sesar naik selalu berasosiasi dengan pembentukan lipatan, oleh karenanya pola lipatan dan sesar naik yang terbentuk relatif bersamaan dinamakan sebagai lipatan anjakan (Thrust fold belt atau Fold thrust belt). Contoh pola struktur demikian dijumpai di daerah Majalengka (Haryanto, 1999), dan di daerah lain seperti di Kalimantan timur.
Urutan pembentukan sesar naik di dalam jalur lipatan anjakan (Gambar 2.21) dimulai di sekitar jalur gunungapi dan semakin jauh dari jalur gunungapi pembentukan sesar naiknya terjadi paling akhir (Lowell, 1985).

2.3.2. SESAR MENDATAR

Sesar mendatar (Strike slip fault atau Transcurent fault atau Wrench fault) adalah sesar yang pembentukannya dipengaruhi oleh tegasan kompresi. Posisi tegasan utama pembentuk sesar ini adalah horizontal, sama dengan posisi tegasan minimumnya, sedangkan posisi tegasan menengah adalah vertikal.
Umumnya bidang sesar mendatar digambarkan sebagai bidang vertikal, sehingga istilah hanging wall dan foot wall tidak lazim digunakan di dalam sistem sesar ini. Berdasarkan gerak relatifnya, sesar ini dibedakan menjadi sinistral (mengiri) dan dekstral (menganan).
Moody dan Hill (1956), membuat model pembentukan sesar mendatar yang dikaitkan dengan sistem tegasan. Di dalam model tersebut dijelaskan bahwa sesar orde I membentuk sudut kurang lebih 30 terhadap tegasan utama. Sesar orde I baik dekstral maupun sinistral merupakan sesar utama yang pembentukannya dapat terjadi bersamaan atau salah satu saja. Selanjutnya sesar orde II mempunyai ukuran yang lebih kecil dan membentuk sudut tertentu terhadap sesar orde I. Lebih lanjut lagi dijumpai orde sesar yang lebih kecil lagi.
Berdasarkan percobaan laboratorium, pembentukan rekahan yang diakibatkan oleh adanya tekanan diawali oleh rekahan yang berukuran kecil dan apabila peoses ini berlangsung terus rekahan kecil tersebut berkesinambungan dan akhirnya membentuk rekahan utama. Berdasarkan hasil percobaan tersebut, maka penamaan sesar orde I, II dst, bukan menunjukan urutan pembentukan sesar, melainkan menunjukan ukuran serta hubungan sudut satu sesar dengan sesar lainnya.
Ada persyaratan tertentu dalam menerapkan konsep Moody dan Hill (1954), yaitu model ini berlaku apabila pembentukan sesarnya bukan merupakan akibat reaktivasi sesar pada batuan dasar atau dengan kata lain sesarnya merupakan sesar primer.
Apabila pembentukan sesar mendatar ini merupakan reaktivasi dari sesar pada batuan dasar, maka konsep Moody dan Hill (1954) tidak tepat diterapkan. Untuk kepentingan analisis dalam kasus ini digunakan model dari Price dan Cosgrove (1956). Model pembentukan struktur yang terakhir ini akan dibahas pada sub bab selanjutnya.
Seperti halnya sesar naik, sesar mendatarpun umumnya tidak berdiri tunggal melainkan terdiri dari beberapa bidang sesar yang selanjutnya membentuk zona sesar (fault zone). Di dalam zona sesar mendatar, umumnya sesar ini membentuk segmen-segmen sesar yang merencong (en-echelon).
Naylor dkk (1986), membuat percobaan laboratorium untuk mengetahui mekanisme pembentukan sesar mendatar. Dalam percobaan tersebut pembentukan sesar terjadi secara bertahap, yaitu :
 Tahap I : Terjadi sejumlah rekahan yang disertai oleh pergeseran mendatar sepanjang 2,1 cm. Masing-masing rekahan tersebut saling terpisah dan posisinya saling merencong pada arah yang relatif sama (en-echelon synthetic Riedel Shear atau R shears) dan membentuk sudut lancip sekitar 17 terhadap tegasan utama.
 Tahap II : Terbentuk pergeseran sepanjang 2,8 cm dan mulai membentuk short-lived splay fault (S) yang membentuk sudut lebih besar dari 17 terhadap tegasan utama.
 Tahap III. Terbentuk



2.3.3. SESAR NORMAL

Sesar normal (Ekstensional fault) terbentuk akibat adanya tegasan ekstensional (gaya tarikan), sehingga pada bagian tertentu gaya gravitasi lebih dominan. Kondisi ini mengakibatkan dibeberapa bagian tubuh batuan akan bergerak turun yang selanjutnya lazim dikenal sebagai proses pembentukan sesar normal.
Sesar normal terjadi apabila Hanging wall relatif bergerak ke bawah terhadap foot wall. Gerak sesar normal ini dapat murni tegak atau disertai oleh gerak lateral (sinistral atau dekstral). Sistem tegasan pembentuk sesar normal adalah ekstensional, dimana posisi tegasan utamanya vertikal sedangkan kedudukan tegasan menengah dan minimum adalah lateral.
Sesar normal umumnya terbentuk lebih dari satu bidang yang posisinya relatif saling sejajar. Apabila bidang sesarnya lebih dari satu buah, maka bagian yang tinggi dinamakan sebagai horst dan bagian yang rendah dinamakan sebagai graben. Selanjutnya apabila jenjang dari bidang sesar normal ini hanya berkembang di salah satu sisi saja (gawir sesar hanya dijumpai pada salah satu lereng saja), maka kelompok sesar tersebut lazim dinamakan sebagai half graben dan apabila jenjang bidang sesar normalnya berpasangan maka dinamakan sebagai graben. Berdasarkan pada bentuk bidang sesar, maka sesar normal ini dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu Planar Ekstensional Fault dan Listric Ekstensional Fault. Selanjutnya Planar ekstensional fault berdasarkan ada tidaknya rotasi, dibedakan menjadi Non-rotational planar fault dan Rotational planar fault.
Secara lokal, pembentukan sesar normal dapat terjadi akibat sistem tegasan kompresional. Terbentuknya “Pull apart basin”, merupakan salah satu contoh dalam kasus ini. Contoh ideal dari pembentukan “pull apar basin” adalah terbentuknya beberapa rendahan atau cekungan (dapat berupa danau). Di beberapa lokasi sepanjang jalur Sesar Semangko, dijumpai beberapa danau yang pembentukannya dikontrol oleh sesar ini. Pembentukan sesar Semangko ini dipengaruhi oleh sistem tegasan kompresional, sedangkan pembentukan danaunya sendiri dipengaruhi oleh tegasan ekstensional. Dalam kasus ini pembentukan pull apart terjadi pada bagian sesar en echelon.
Di dalam eksplorasi migas, ekstensional fault sistim sangat penting dipelajari, karena sistem sesar ini mengontrol pembentukan tinggian dan cekungan. Model geometri cekungan sangat dipengaruhi oleh pola struktur sesarnya yang selanjutnya mempengaruhi geometri dari cekungan itu sendiri. Graben dan half graben merupakan dua model bentuk cekungan yang seluruhnya dikontrol oleh pola sesarnya. Selanjutnya dari kontrol struktur ini juga akan diketaui apakah bentuk cekungan ini simetri atau asimetri.
Dalam geometri cekungan asimetri half graben, sesar normal yang berkembang pada batas-batas cekungan dapat berupa simple border fault system atau distributary border fault system. Selanjutnya pada sisi lain dari suatu cekungan dapat berupa flexure shoulder dan atau fault shoulder.

Planar Ekstensional Fault
Planar ekstensional fault adalah sesar normal dengan bidang sesar datar atau semu datar (sedikit lengkungan). Gerak sesarnya dapat/tanpa disertai oleh rotasi. Ada berbagai macam jenis sesarnya, antara lain : Planar non-rotational faulting, Planar rotational faulting (rigid dominous), Sigmoidal rotational faulting (soft dominous), Planar detachment faulting, Kinked planar detachment faulting.
• Planar rotational faulting (rigid dominous) adalah sesar dengan bidang datar yang disertai oleh rotasi batuan yang disesarkannya.
• Sigmoidal rotational faulting (soft dominous) adalah sesar normal dengan bidang sesar agak lengkung dan disertai oleh gerak rotasi.
• Planar detachment faulting adalah sesar normal dengan bidang datar yang tidak menerus ke bagian basement. Di bagian tertentu dapat diikuti oleh sesar sekunder yang dapat menghasilkan roll-over dan crestal collapse.
• Kinked planar detachment faulting adalah sesar normal dengan bidang datar tertekuk yang juga tidak menembus basement. Pada bagain tertentu dapat diikuti oleh sesar sekunder yang dapat mengakibatkan terbentuknya roll over dan crestal collapse.

Listric Ektensional Fault
Listric ekstensional fault dicirikan oleh bidang sesar yang melengkung (curve), semakin ke arah atas, bidang sesarnya semakin tegak sedangkan ke arah bawah semakin melandai bahkan dapat horisontal. Ciri lain dari sesar ini adalah dijumpainya roll-over anticline dengan bagian puncak umumnya disertai oleh amblasan (collapse graben). Sesar ini dapat berdiri sendiri misalnya pada “basal detachment” atau dapat pula berpasangan seperti di dalam imbricated system.
Di dalam zona sesar ini, bagian hanging wall umumnya disertai oleh sejumlah sesar lain yang ukurannya lebih kecil. Sesar-sesar sekunder ini dapat bersifat sebagai antithetic atau synthetic terhadap sesar utamanya. Berdasarkan pada geometrinya, sesar listric ini dapat dibedakan menjadi : Listric faulting-concave upwards, listric faulting-convex upwards dan listric faulting-ramp/flat trajectories.
• Listric faulting-concave upwards adalah sesar normal dengan bidang sesar melengkung yang sifatnya cekung ke arah atas. Jika diiukti oleh sesar sekunder dapat menghasilkan roll-over dan crestal collapse. Jenis sesar ini termasuk ke dalam decollment yang tidak menembus basement.
• Listric faulting-convex upwards adalah sesar normal dengan bidang sesar melengkung yang sifatnya cembung ke arah atas. Jika diiukti oleh sesar sekunder dapat menghasilkan roll-over dan crestal collapse. Jenis sesar ini termasuk ke dalam decollment yang tidak menembus basement.
• Listric faulting-ramp/flat trajectories adalah sesar normal dengan bidang sesar melengkung yang dicirikan pada bagian hanging wall yang berstruktur kompleks. Pada bagian hanging wall ini berkembang sejumlah struktur sekunder baik yang sifatnya synthetic maupun anthitetic. Anticline roll over dan crestal collapse juga berkembang pada blok hanging wall.

Dalam skala regional seringkali pola struktur berkembang dengan kompleks sehingga jenis sesar normal yang berkembang merupakan kombinasi dari berbagai macam geometri. Penelitian mengenai kompleks sesar normal dapat diteliti melalui data singkapan atau berasal dari data seismic. Unsur terpenting dalam penelitian ini adalah mengamati pola/geometri, fault surface dan fault block yang terbentuk selama proses deformasi. Contoh kasus mengenai masalah di atas seperti yang ditemukan di daerah turki. Di daerah ini tersingkap batuan sediment tua yang tersesarkan secara intensif. Dengan mengamati pola/geometri, fault surface dan fault block, disimpulkan pola sesarnya sebagai convex upwards to sigmoidal domino style. Di dalamnya juga berkembang anticline roll over yang disertai oleh crestal collapse graben. Contoh lainnya adalah pola struktur “Steepening donward kinks” dengan bidang sesar memotong sejumlah bidang lapisan batuan. Di dalam contoh yang terakhir, juga berkembang crestal collapse graben. Kedua contoh struktur di atas juga membentuk pola struktur sekunder yang di dalamnya berkembang antithetic dan synthetic terhadap sesar utamanya.



Linked Listric Fault System
Gibbs (1984) memodifikasi klasifikasi listric fault ke dalam system duplex dan imbricated fan system. Penamaan Duplex (dalam hal ini extensional duplexes) di dalam system sesar normal terjadi apabila riders/sheet dilingkupi oleh bidang sesar. Apabila system duplex ini berkembang di bagian bawah (tepat di atas floor fault sesar utama) dapat dinamakan sebagai roof fault. Selanjutnya Imbricated system terjadi apabila sheet/riders terbentuk relative saling sejajar. riders/sheet di dalam ekstensional fault terbentuk di bagian hanging wall dan dia dapat terbentuk akibat sesar sekunder yang sifatnya dapat antithetic (istilah lain untuk sejumlah sesar antithetic adalah counter fan) atau synthetic terhadap sesar utamanya. Baik antithetic maupun synthetic fault dapat terbentuk secara berurutan (propagation sequence) dan pola struktur ini dapat membentuk roll over.
Di dalam listric fault juga dikenal istilah ramp dan flat. Ramp terjadi apabila bidang sesarnya relative melandai bahkan dapat hprisontal sedangkan istilah flat diperuntukan untuk bidang sesar yang memiliki kemiringan cukup besar. Baik ramp maupun flat berkembang di dalam satu bidang sesar yang sama. Dalam perkembangan tektonik selanjutnya, sistim ram-flat listric fault dapat diikuti oleh pembentukan sesar baru yang sifatnya synthetic. Sesar ini memotong sesar utamanya sehingga dinamakan sebagai short cut fault.
Di dalam zona listric faulting arsitektur batuan lebih dominant terekam di bagian hanging wall, karena pada bagian ini umum berkembang roll over, anticline/sincline roll over serta terbentuknya crestal graben akibat sesar-sesar sekunder. Kompleksitas arsitektur batuan akibat pensesaran ini dikontrol oleh ukuran dan slope dari ramp yang berkembang di dalam zona listric fault.

Strcture style
Istilah Strcture style umumnya digunakan di dalam industri minyak. Seperti kita ketahui perkembangan teori plate tektonik berkembang sejalan dengan kegiatan eksplorasi migas. Klasifikasi Strcture style ditentukan berdasarkan ada tidaknya keterlibatan basement (involved or non-involved of basement). Istilah basement di dalam industri migas diartikan sebagai batuan dasar, dimana batuan tersebut sudah bersifat kristalin misalnya pada batuan rigid crystalline igneous or metamorphic rock.
Strcture style umumnya agak sulit diidentifikasi terlebih apabila data geologinya sangat kurang. Untuk menentukan Strcture style perlu dikompilasi berbagai macam data, karena dalam kumpulan struktur (structural assemblages) banyak produk struktur yang sama pada habitat struktur yang berbeda.
Secara teoritis beberapa petunjuk yang dapat digunakan untuk menentukan Strcture style, antara lain : (1) Mengindentifikasi struktur indeks (key structure), misalnya en echelon folds dan faults, trap door block, roolover anticline dan sebagainya; (2) Mengamati adanya anomaly struktur di dalam zona struktur yang lebih dominant (trend arrangements); (3) Mengamati pola struktur regional.
Beberapa contoh key structure yang dapat digunakan dalam menentukan Strcture style, antara lain :
• Drag fold adalah struktur lipatan pada batuan sediment yang terbentuk akibat seretan oleh batuan yang saling bergerak disepanjang bidang sesar.
• Drape (forced) fold adalah struktur lipatan yang terbentuk pada batuan sediment yang diakibatkan oleh adanya aktifitas tektonik pada batuan dasarnya, misalnya pada basement terbentuk block faulting sehingga cover sediment yang berada di atasnya terganggu.
• Intersecting atau grid structure adalah struktur sesar yang saling berpotongan (multiple structures) yang terjadi pada daerah yang luas, misalnya struktur zig-zag atau dogleg.
• En echelon adalah struktur geologi yang relatif saling sejajar, satu sama lain terletak pada jalur/posisi yang berbeda namun secara keseluruhan membentuk zona yang memanjang, misalnya en echelon fold/fault.
• Irregulary clustered-concentration of structure adalah kelompok struktur yang tak beraturan polanya.
• Parallel-similar structure adalah pola struktur yang saling sejajar, saling berdekatan, membentuk pola seperti bergelombang, misalnya pola struktur fold thrust belt.
[Read More...]


PENDAHULUAN TEKTONIKA



Litosfer disusun oleh benda padat yang keras (rigid) dan selalu bergerak di atas lapisan mantel yang bersifat mobile. Hasil penelitian geologi dan geofisika menunjukan bahwa kulit bumi ini tersusun atas sejumlah lapisan (lempengan) batuan yang memiliki ukuran dan sifat fisik-kimia berlainan.
Lempeng kerak bumi tersebut diatas dapat dipisahkan oleh jalur subduksi, rifting dan strike slip (Hamilton, 1979). Masing-masing lempeng dapat dilihat pada gambar
Dalam pergerakan lempeng-lempeng litosfera dikenal tiga jenis interaksi lempeng yaitu (Gambar 1.1 dan 1.2) :

1. Divergen (divergent), apabila dua lempeng bergerak saling menjauh disertai proses pembentukan litosfera baru melalui rekahan yang meregang (Mid Oceanic Ridges).

2. Konvergen (convergent), apabila dua lempeng saling mendekat, dicirikan dengan adanya tumbukan dimana salah satu lempeng akan menunjam dan menyusup ke bawah lempeng lainnya, serta adanya Benioff zone yaitu suatu jalur bergempa yang miring dengan sudut beragam. Gerak konvergensi ditunjukkan dengan adanya penunjaman (subduction) lempeng samudera dibawah lempeng benua dan pertumbukan (collision) antara lempeng benua dengan lempeng benua atau lempeng benua dengan busur kepulauan. Dalam kawasan konvergensi lempeng apabila salah satu lempeng merupakan kerak samudera, maka akan mencerminkan suatu bentuk busur kepulauan (Dickinson, 1971).
Daerah penyusupan (subduction zone) merupakan pusat-pusat orogen yang meliputi pertumbukan benua, pengerutan lapisan, penebalan kerak dan pembumbungan isostasi bersama kegiatan magmatik dan metamorfisma.

3. Sesar transform (transform fault, fracture zone), apabila dua lempeng bergerak saling berpapasan pada lantai samudera, umumnya sesar transform berasosiasi dengan punggungan dan celah (Menard dan Chase, 1970).
[Read More...]


Accretionary wedge (Prisma Akresi)



Proses Pembentukan Accretionary wedge

Accretionary wedge atau accretionary prism dibentuk oleh proses tumbukan (collision) antar lempeng benua serta oleh proses penunjaman (subduction) antara lempeng benua dan lempeng samudra.

Pada proses tumbukan, karena baik system busur kepulauan ataupun benua tidak terjunjamkan, maka kedua system menjadi terkunci total. Kedua keadaan ini mengakibatkan busur kepulauan dan sediment pinggiran benua tertekan, terdeformasi, tergencet, terlipat, tersesar sungkupkan dan terangkat, membentuk jalur lipatan dan sesar yang menjadi cirri jalur orogenesa. Jalur orogenesa ini kemudian bertumbukan, terakramasi dan bergabung (amalgamsi) dengan benua. Jenis pertambahan dan pertumbuhan benua ini disebut sebagai accretionary wedge.

Pada proses subduction, seduction menghasilkan kerak accretionary widge melalui proses subduction off-scraping (penyuguan dalam penunjaman) sebagian massa kerak oseanik dikerok-disugu, dicampur dengan massa dari pinggir kontinen, diramu dalam sedimentasi dan tektonik imbrikasi jadilah accretionary widge yang bentuknya membaji mirip geometri prisma.

Dampak Yang Ditimbulkan dari Accretionary Wedge

Accretionary wedge merupakan daerah yang paling rawan terhadap gempa karena pusat-pusat gempa berada dibawahnya. Batuan accretionary wedge memiliki kekhasan yaitu ditemukannya batuan campur aduk (mélange, ofiolit) yang umumnya berupa batuan Skist yang berumur muda. Sejarah kegempaan membuktikan bahwa episentrum gempa –gempa kuat umumnya terletak pada accretionary wedge ini karena merupakan gempa dangkal (< 30 km).
[Read More...]


FLOWER STRUCTURES



Dalam banyak penjelasan, patahan strike-slip di permukaan terdiri dari segmen en echelon dan/atau braided dalam banyak kasus mungkin warisan dari terbentuknya riedel shears sebelumnya. Di cross-section perpindahan didominasi tipe naik atau normal tergantung pada keseluruhan geometri patahan yang transpressional atau transtensional. Patahan cenderung untuk bergabung ke bawah kedalam suatu untaian di basement, geometrinya telah membimbing untuk menjadi istilah ini flower structure.
[Read More...]


RIFTING



Rifting adalah proses di mana kerak benua diperpanjang atau mengalami pemekaran dan menipis, membentuk cekungan sedimen perpanjangan dan / atau mafic tanggul-kawanan.

Wilson Cycle Dan Pembentukan Ocean Basin
Sesuai dengan konsep Pemekaran dasar samudera yang muncul pada akhir tahun 60-an, maka akibat untuk geologi muncul secara bertahap. Yang pertama kali menyadari bagaimana lempeng tektonik dapat diaplikasikan dalam rekaman geologi ialah J. Tuza Wilson. Jika lempeng benua mengelami keretakan untuk membentuk Ocean Basin, maka lempeng samudera lainnya harus tertutup. Hal ini dapat terulang beberapa kali dalam sejarah bumi. Contohnya ialah di Lapetus laut antara Inggris dan Skotlandia di bawah Paleozoik tertutup pada Calcedonia dan kemudian mengalami pembukaan Atlantik hampir pada tempat yang sama. Siklus ini dikenal sebagai Wilson Cycle :
1. Rifting Benua oleh Mantel Diaprism
2. Continental Drift, Penyebaran dan Pembentukan dasar laut samudera.
3. Continental Collision dan penutupan terakhir ocean basin.

• Empat tahapan yang ada dalam pembentukan tektonik khas Rifted Passive Margin :

1. Rift Valley
Tahapan ini melibatkan pembentukan Graben awal sebelum benua terpecahkan. Tahapan ini dapat berasosiasi dnegan pengangkatan Domal yang disebabkanoleh peningkatan material hot upper mantle. Contohnya adalah African Rift Valley.
2. Youthful
Tahapan ini dikarakteristikan oleh regional subsidence yang cepat dari outer shelf dan slope, namun beberapa pembentukan Graben dapat bertahan. Contoh : Laut Merah.
3. Mature
Tahapan ini berlangsung selama daerah tersebut terjadi pengendapan . contohnya ialah kebanyakan dari Continental Atlantic Margin.
4. Fracture
Tahapan ini terjadi ketika sejarah continental margin mulai dan berakhir.

Burke & Whiteman (1973), mengikuti doming hipotesis, menyatakan bahwa di daerah domal ini, akan berkembang tiga pemekaran, membentuk sebuah 'RRR' triple junction. Meskipun ada kemungkinan bahwa ketiga pemekaran itu bisa berkembang menjadi lautan ('RRR'), lebih mungkin bahwa dua dari pemekaran ini akan berkembang menjadi sebuah samudera ('RRR'), meninggalkan celah ketiga sebagai 'failed arm'. Mereka berspekulasi bahwa di berbagai benua itu adalah mungkin untuk mengenali sambungan RRR ini. Pemekaran 'failed arm’ pada akhirnya akan mereda sebagai anomali termal dan menjadi lokasi utama depositional basin, atau aliran sungai besar dan delta. The Benue Trough di Nigeria dianggap sebagai contoh ‘failed arm’ mengikuti pembukaan Samudera Atlantik.

“When oceans eventually close it is possible to recognise these failed arms as depositional basins oriented perpendicular to the collision mountain belt (most basins tend to be aligned parallel to mountain belts)”. Ketika samudera akhirnya mendekat, hal ini memungkinkan untuk mengenali failed arm ini sebagai depositional basins yang berorientasi tegak lurus terhadap collision mountain belt yang disebut 'aulacogens'.
[Read More...]


MOR (Mid-Ocean Ridge)



MOR (Mid-Ocean Ridge) adalah rantai gugusan gunungapi di bawah laut yang mengelilingi bumi dimana kerak bumi baru terbentuk dari leleran magma dan aktifitas gunung berapi, panjangnya lebih dari 40.000 mil (60.000 km). MOR terbentuk oleh aktivitas tektonik lempeng yang bergerak secara divergen, sehingga kekosongan pada batas dua lempeng samudera yang terpisah terisi oleh lava/magma yang menghasilkan sebuah kerak baru.

Struktur yang paling menonjol di dasar samudera adalah punggungan tengah samudera (Mid-Ocean Ridge). Punggungan ini berupa tinggian yang memanjang di dasar samudera dengan puncak hingga ada yang mencapai 3.000 m di atas lantai samudera. Di bagian tengah punggungan biasanya terdapat lembah yang aktif diisi oleh lelehan magma secara terus-menerus. Di beberapa tempat atau segmen, punggungan tengah samudera terlihat mengalami pergeseran (offset), disebabkan terpotong oleh pensesaran yang terjadi kemudian, yang disebut sebagai sesar alih/transform (transform faults).
Benua – benua yang ada sekarang pernah bersatu dalam super continental Pangea.

Dengan demikian dasar samudra Atlantik terbentuk sejak benua – benua tersebut memberai, pecah dan terpisah. Salah satu bukti yang menunjukkan bahwa dasar samudera dibentuk oleh kerak samudra yang relatif muda diperlihatkan oleh batuan sedimen yang tidak lebih tua dari 200 juta tahun. Punggungan tengah samudra merupakan satu kawasan yang dibentuk oleh kerak bumi yang baru. Dengan demikian dasar samudra secara menerus berkembang dengan punggungan tengah samudera sebagai tempat dan pusat naiknya magma baru, yang kemudian mendingin dan membeku membentuk kerak benua yang baru.
[Read More...]


 

Statistic Blog's



Free Page Rank Tool
Return to top of page Copyright © 2012 Always-Sharing | Blogspot Tutorial | From Zero To Hero | Template by HackTutors